Mabuk Cinta   Leave a comment

By Johanes Sudrijanta

 

Testimoni AA, 31th, Akuntan Publik. AA baru saja menyelesaikan live in selama 3 bulan di Biara Trappistin, Gedono, Jawa Tengah. Pada November 2011 nanti, AA akan secara resmi memasuki Biara Trappistin sebagai Postulan. Berikut ini adalah testimoni pengalaman meditasinya yang memperteguh jalan panggilannya untuk hidup membiara.

 

=======

Tiga bulan tinggal di Biara Trappistin, Gedono, telah lewat. Banyak pengalaman yang tak mudah diungkap dengan kata. Masih segar dalam ingatan, bahkan jelas setiap detilnya, tetapi tidak mudah untuk menuliskannya. Satu-satunya alasan yang membuatku memiliki daya untuk kembali menulis adalah karena hari ini adalah hari istimewa. Hari ini, aku kembali melewatkan saat-saat kebersamaan yang hangat bersama rekan-rekan seperjalanan dalam meditasi, merayakan hari ulang tahun guru dan sahabat kami semua.

 

“Sungguh, baru kusadari, betapa guratan-guratan itu, atau lebih tepat sayatan-sayatan itu, telah menuntun langkahku menuju kasih abadi. Apa itu kasih abadi? Apakah kami kelak akan bertemu dan saling memandang?”

 

Kalimat-kalimat itu timbul begitu saja setelah tiga minggu kembali ke dunia nyata dari  live in selama 3 bulan di biara Trappistin, Gedono. Ya, dunia nyata. Begitulah sahabat-sahabatku mengatakannya. Awalnya kupikir akan mudah kembali menjejakkan langkah di dunia nyata ini.

 

Ah, masih memakai kata-kata “aku”. Tetapi, memang saat ini aku tidak lagi seperti dulu. Suka tidak suka, mau tidak mau, realitas ini harus kuterima. Tiga bulan yang lalu, aku begitu mudah mengungkapkan kata. Sekarang, lihatlah. Betapa sulit menggoreskan kata. Bahkan yang paling sederhana sekalipun. Ya, aku memang sedang berada di dunia nyata. Namun bukan lagi aku yang dulu. Serupa namun tak sama. Ketika sesuatu dalam diriku mengubah sebuah obsesi menjadi kebebasan dalam mencintai.

 

Hasrat untuk menanggapi panggilan hidup membiara kurasakan sejak di bangku kelas 3 SD. Gelora itu tidak pernah surut hingga masa-masa kerja keras di dunia kerja. Aku melihat diriku terbentuk dari beragam ide dan lingkungan tempat aku dilahirkan dan dibesarkan. Lahir dari keluarga kecil sebagai banak bungsu dari dua bersaudara, sama-sama perempuan.

 

Aku merasakan suatu dorongan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan sempurna. Bermimpi untuk bersatu dalam keabadian dengan Sang Kekasih. Itu suatu rasa-perasaan yang melampaui perasaan seorang anak kecil yang sedang jatuh cinta.

 

Langkah-langkah kecilku, sekali lagi tanpa disadari, berubah menjadi sebuah obsesi. Ah, nampaknya itulah awal dari luka-luka yang kuciptakan sendiri. Betapa sepi dan gelapnya perjalanan itu, ketika orang-tua tidak memahami hasratku. Aku seperti berjalan seorang diri. Kapankah orang-tua akan melepaskanku dengan rela untuk menanggapi panggilan hidup membiara?

 

Menunggu dan berharap adalah satu-satunya yang bisa kulakukan. Impian polos untuk menjadi seorang yang suci, berubah menjadi belenggu yang aku sendiri tidak sanggup memahaminya. Tegangan antara hasrat untuk bersatu dengan Dia dan ketidaksetujuan keluarga untuk hidup membiara, membuatku menjadi pribadi yang introvert. Betapa terlukanya diriku oleh gelora cinta yang aku sendiri tidak pahami.

 

Ketika panggilan itu aku rasakan, setidaknya begitulah yang dikatakan orang pada umumnya, aku bahkan mencoba untuk meminta ijin dari orang tua, sampai 4 kali. Keberanian untuk kembali meminta ijin datang ketika aku telah bekerja.

 

Dunia seperti sedang menghimpitku. Saat itulah sebenarnya awal dari perjalanan yang sesungguhnya. Cerita yang digoreskan oleh Dia dengan sangat indah. Harta yang tersembunyi kini terkuak pada saat yang tepat dan seketika mengubah luka menjadi daya yang luar biasa. Aku dipertemukan dengan pribadi-pribadi yang luar biasa dan akhirnya diperkenankan untuk meneruskan langkah sampai pada saat ini.

 

Benar, aku hanyalah manusia biasa yang juga memiliki banyak luka. Fakta ini kusadari, di hari-hari terakhirku sebelum aku kembali ke Jakarta. Pada saat-saat keheningan meditasi, aku menyadari batin masih dipenuhi oleh keinginan-keinginan halus untuk “menjadi lebih baik”, “menjadi suci”, “menjadi sempurna”. Keinginan-keinginan halus tersebut justru menjadi lahan subur bagi timbulnya luka. Namun kini luka itu telah diubah menjadi harta yang tak ternilai harganya.

 

Kurang lebih 3 tahun yang lalu, aku mengenal Romo dan sahabat-sahabatku. Belajar melihat dunia dengan realitas-realitasnya, termasuk realitas diri sendiri. Waktu berjalan dengan penuh kenangan hingga 3 bulan yang lalu. Aku akhirnya sampai di tempat yang selama ini kuimpikan, biara Trappistin di sebuah desa kecil di lereng Gunung Merbabu, beberapa hari menjelang Pekan Suci Maret 2011.

 

Masih teringat jelas ketika beberapa minggu sebelumnya, aku harus meninggalkan tempatku bekerja. Betapa tidak mudah meninggalkan tempat kerja di mana aku menghabiskan hari-hari selama bertahun-tahun. Namun sungguh seperti mimpi rasanya. Setelah keputusan diambil ada rasa lega, senang, bahagia, bersemangat, sedih, takut, dan semua rasa menyatu dan melingkupi batinku sepenuh-penuhnya. Bahkan ketika dalam perjalanan menuju kota Semarang, batinku penuh sesak dan nyaris membuatku berteriak.

 

Saat itu pikiranku terus-menerus bertanya, “Apa yang kulakukan? Apa yang sedang kulakukan? Apakah aku sudah kehilangan akal sehatku?”. Seolah sedang bermimpi melihat aku berada di kendaraan yang membawa ke tempat yang sungguh asing bagiku. Pergi meninggalkan kenangan-kenangan manis bersama para sahabat dan melepaskan segala hasil jerih payahku selama hampir 5 tahun bekerja. Dan yang paling sulit adalah berpisah dengan kehangatan yang kurasakan bersama rekan-rekan seperjalananku. “Untuk apakah aku pergi sejauh ini dan meninggalkan segalanya?”, aku bertanya dalam hati.

 

Ya, melepaskan semuanya dan memasuki padang gurun. Dalam perjalanan menuju Gedono, aku menerima pesan singkat dari Romo via sms, “Ucapkan selamat tinggal pada semuanya. Selamat tinggal artinya Tuhan bersamamu ketika dirimu tidak lagi ada.” Selesai membaca pesan tersebut, sekelebat wajah setiap orang yang kukasihi, keluarga dan sahabat-sahabatku, terbayang di benakku. Kembali aku sadar bahwa merekalah peneguh yang kini membuat aku melangkah pasti di jalan ini.

 

Hari pertama hingga tepat tiga bulan di Biara Gedono kulalui tanpa kesulitan berarti. Ada saat-saat suka; ada saat-saat penuh duka. Keheningan intensif menguak tabir apa saja yang tersembunyi dihadapanNya. Segala emosi yang paling dalam dan tersembunyi menyingkapkan siapa yang di sebut si aku ini. Seluruh peristiwa hidup dalam memoriku menyeruak ke luar dengan jelas, mulai dari masa kecilku hingga saat itu.

 

Aku bukanlah seorang yang sempurna, terbelenggu oleh ego. Menghadapi diri sendiri secara langsung ternyata sungguh tidak mudah. Tidak terbayang jika sebelumnya aku tidak mengenal meditasi. Aku melewati waktu demi waktu dengan kesadaran penuh. Saat demi saat yang kuhargai sebagai satu-satunya yang nyata. Pembimbing Magistraku berkata, “Setia hari demi hari.” Ya, seperti seringkali dikatakan rekan-rekan pemeditasi,  bahwa Saat Sekarang adalah segalanya.

 

Tak ada yang baru dan aneh. Bukan pula sesuatu yang luar biasa. Kehidupan sederhana yang dijalani dengan keindahan ilahi: bekerja tangan, beraktivitas, dan berdoa. Semua menjadi satu dalam keheningan kontemplatif yang indah. Bagiku, itu semua bukanlah hal baru dan itu semua, entah bagaimana, menyatukan diriku dengan rekan-rekan pemeditasi di mana pun mereka berada. Ada saat-saat pengajaran Ibu Abdis terkasih, terasa begitu dekat di hati. Ya, semua yang diajarkan Romo selama ini  ada di sini. Sesuatu Yang Lain melingkupiku dengan sempurna. Suatu hari, aku berbisik dalam hati, “Romo, aku telah dipertemukan dengan sumbernya.”

 

Suatu kali, Ibu Abdis berkata, “Menjalani kehidupan yang sederhana di sini, bukanlah sesuatu yang luar biasa namun akan menjadi sulit jika tidak dijalani dengan kerendahan hati dan kesetiaan tulus.” Keseetiaan dengan hal-hal kecil menghantarku untuk menyadari bahwa ketika cinta sejati datang maka yang ada di dalamnya adalah kebebasan. Ya, cukup dengan menyadari bahwa diri terbelenggu, maka seketika itu pula, kebebasan itu datang. Saat itulah kalimat yang seringkali diucapkan Romo, “Sadar setiapkali kita tidak sadar”, kupahami secara konkrit.

 

Harta kekayaan tak ternilai yang tersembunyi dalam Gereja selama berabad-abad lamanya kini mulai tersingkap. Betapa mengagumkan Yang Transendental menyentuh relung batin manusia dan mengijinkannya mencicipi keindahan sejati. “Dengan apakah manusia mampu menjawab cinta, yang jauh melampaui kata dan bahasa sebagai satu-satunya harta tak ternilai yang dimilikinya? Ungkapan apakah yang pantas diberikan sebagai ucapan terima kasih kepada Dia Yang Tak Terselami?  Apakah aku ini sehingga dianggap layak untuk mencicipi keindahan surgawi ini.”

 

Masih banyak pertanyaan yang perlu lebih banyak untuk diselami. Langkah kecil barulah mulai. Dan saat ini, aku hanya mampu mengucap, “Terima kasih, ya Abba.” Trimakasih pula untuk Romo dan rekan-rekan pemeditasi.*

Posted August 22, 2011 by gerejasanta in Testimonies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: