Iman Melampaui Agama   Leave a comment

 

By Johanes Sudrijanta

 

Agama sebagai persekutuan orang-orang yang percaya dengan kitab-kitab sucinya, doktrin-doktrinnya, tradisi-tradisinya, upacara-upacara ritualnya, para pemimpin dan hierarkinya dalam kenyataan bagi kebanyakan orang diperlakukan sebagai system pendukung bagi survival hidup dan kelestarian ego. Orang berduyun-duyun memenuhi Masjid, Gereja, atau tempat-tempat ibadah, tetapi dampak perubahan fundamental dalam hidup pribadi dan social sangatlah kecil. Agama kepercayaan yang dianut oleh kebanyakan orang ini bukan hanya bisa membelenggu umatnya sendiri, tetapi juga bisa menjadi sumber konflik abadi yang merusak hidup bersama.

 

 Agama yang membebaskan adalah agama yang lebih menekankan pengolahan kesadaran dan bukan penguatan kepercayaan. Lewat pengolahan kesadaran, dimungkinkan orang melihat langsung kebenaran non-konseptual dan kebenaran inilah yang membebaskan batin secara mendasar. Hanya perubahan batin yang mendasar memungkinkan terjadinya perubahan social yang mendasar. Beriman dan beragama yang membebaskan dengan demikian menembus sekat-sekat kepercayaan dan sekat-sekat social.

 

 Kalau kebanyakan agama hanya sibuk dengan urusan kepercayaan, maka iman yang membebaskan, baik secara individu maupun social yang keduanya sebenarnya tidak berbeda, haruslah melampaui agama-agama. Maka yang diperlukan bukan sekedar memahami secara mendalam kebenaran konseptuil dalam agamanya sendiri dan terbuka terhadap kebenaran konseptuil agama lain, tetapi menemukan kebenaran non-konseptuil melampaui semua doktrin, semua tradisi, dan kitab-kitab suci. Kalau orang berani berjalan sejauh itu, maka agama bukan lagi hanya soal percaya atau tidak percaya, bukan soal benar atau salah menurut doktrin, bukan soal wajib atau tidak wajib mengikuti perintah agama.

Untuk berjalan melampaui iman konseptuil dan agama kepercayaan, orang perlu mengenali dalam dirinya jebakan-jebakan dalam beriman dan beragama. Sekurang-kurangnya ada empat jebakan dalam kehidupan spiritual: ritualisme atau pietisme, rasionalisme, queitisme, dan aktivisme.

 

 Anda bisa mengenali disposisi Anda dengan menjawab pertanyaan berikut:

– Manakah dari nilai-nilai berikut ini yang Anda pandang paling utama dalam diri Anda dan urutkan menurut hierarkinya mulai dari nilai yang paling kuat: kesalehan, pengertian rational, ketenangan, tindakan atau perbuatan?

– Manakah dari nilai-nilai berikut ini yang seringkali menjebak Anda dan urutkan menurut hierarkinya mulai dari nilai yang paling kuat: aktivisme, quietisme, rasionalisme, ritualisme atau pietisme?

 

 Secara lebih spesifik, Anda bisa memeriksa batin dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

 

Ritualisme atau pietisme

Apakah Anda merasa sangat bersalah kalau tidak memenuhi kewajiban melakukan upacara ritual keagamaan? Apakah Anda tergerak untuk mengikuti ritual keagamaan dengan lebih khusyuk? Apakah Anda memberi hormat yang tinggi kepada orang lain yang saleh hidupnya?

Quietisme

Apakah Anda lebih menyukai suasana ketenangan dibanding  suasana kemeriahan dalam doa atau liturgi? Apakah Anda lebih merindukan kedamaian batin lebih daripada pemuasan intelektuil? Apakah Anda lebih merasa nyaman menghabiskan waktu sendirian dibandingkan berkegiatan bersama orang lain? Apakah Anda suka keheningan tetapi tidak mengalami transformasi batin yang mendasar?

Rasionalisme

Apakah Anda sulit untuk percaya atau menerima suatu kebenaran tanpa penalaran atau argument yang kuat? Apakah Anda memiliki kehausan untuk mengerti kebenaran-kebenaran iman secara intelektuil? Apakah Anda lebih tergerak untuk memahami  secara intelektuil suatu kebenaran tetapi tidak menemukan kebenaran secara aktuil?

 

 Activisme

Apakah Anda lebih banyak berkegiatan tetapi jarang berdoa? Apakah Anda lebih banyak terlibat dalam aksi konkrit untuk perdamaian, keadilan, dan kesejahteraan, dibanding sibuk berpikir atau berteori tentang perdamaian, keadilan, dan kesejahteraan? Apakah Anda seringkali merasa kelelahan atau kehabisan energy dalam berkegiatan dan merasa selalu kurang pemulihan?

 

 Kepuasan ritual, kepuasan intelektual, kepuasan rasa tenang, dan kepuasan berkegiatan hanya akan memperkuat ego yang halus. Jebakan-jebakan di atas merupakan manifestasi dari orientasi batin yang mendekati Tuhan atau kebenaran dengan konsep dan kepercayaan. Iman yang membebaskan musti melampaui konsep dan kepercayaan yang hanya mampu memuaskan ego tetapi tidak mampu mentransformasi ego. Untuk itu dibutuhkan pengosongan atau pelepasan konsep, idea, dan gambaran-gambaran tentang diri, Tuhan dan kebenaran.

Iman non-konseptuil yang melampui agama kepercayaan akan melihat agama dan kehidupan secara berbeda. Agama bukan lagi dipakai sebagai “alat pemuasan” bagi para pemimpin dan pengikutnya untuk mempertebal egonya sendiri, tetapi sebagai “manifestasi pembebasan”. Agama dengan demikian tidak lagi menjadi sumber konflik, belenggu , dan kekerasan, tetapi bisa menjadi sumber inspirasi dan manifestasi untuk pembebasan diri dan social yang sesungguhnya.*

Posted July 24, 2011 by gerejasanta in Articles

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: