Mabuk Cinta   Leave a comment

By Johanes Sudrijanta

 

Testimoni AA, 31th, Akuntan Publik. AA baru saja menyelesaikan live in selama 3 bulan di Biara Trappistin, Gedono, Jawa Tengah. Pada November 2011 nanti, AA akan secara resmi memasuki Biara Trappistin sebagai Postulan. Berikut ini adalah testimoni pengalaman meditasinya yang memperteguh jalan panggilannya untuk hidup membiara.

 

=======

Tiga bulan tinggal di Biara Trappistin, Gedono, telah lewat. Banyak pengalaman yang tak mudah diungkap dengan kata. Masih segar dalam ingatan, bahkan jelas setiap detilnya, tetapi tidak mudah untuk menuliskannya. Satu-satunya alasan yang membuatku memiliki daya untuk kembali menulis adalah karena hari ini adalah hari istimewa. Hari ini, aku kembali melewatkan saat-saat kebersamaan yang hangat bersama rekan-rekan seperjalanan dalam meditasi, merayakan hari ulang tahun guru dan sahabat kami semua.

 

“Sungguh, baru kusadari, betapa guratan-guratan itu, atau lebih tepat sayatan-sayatan itu, telah menuntun langkahku menuju kasih abadi. Apa itu kasih abadi? Apakah kami kelak akan bertemu dan saling memandang?”

 

Kalimat-kalimat itu timbul begitu saja setelah tiga minggu kembali ke dunia nyata dari  live in selama 3 bulan di biara Trappistin, Gedono. Ya, dunia nyata. Begitulah sahabat-sahabatku mengatakannya. Awalnya kupikir akan mudah kembali menjejakkan langkah di dunia nyata ini.

 

Ah, masih memakai kata-kata “aku”. Tetapi, memang saat ini aku tidak lagi seperti dulu. Suka tidak suka, mau tidak mau, realitas ini harus kuterima. Tiga bulan yang lalu, aku begitu mudah mengungkapkan kata. Sekarang, lihatlah. Betapa sulit menggoreskan kata. Bahkan yang paling sederhana sekalipun. Ya, aku memang sedang berada di dunia nyata. Namun bukan lagi aku yang dulu. Serupa namun tak sama. Ketika sesuatu dalam diriku mengubah sebuah obsesi menjadi kebebasan dalam mencintai.

 

Hasrat untuk menanggapi panggilan hidup membiara kurasakan sejak di bangku kelas 3 SD. Gelora itu tidak pernah surut hingga masa-masa kerja keras di dunia kerja. Aku melihat diriku terbentuk dari beragam ide dan lingkungan tempat aku dilahirkan dan dibesarkan. Lahir dari keluarga kecil sebagai banak bungsu dari dua bersaudara, sama-sama perempuan.

 

Aku merasakan suatu dorongan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan sempurna. Bermimpi untuk bersatu dalam keabadian dengan Sang Kekasih. Itu suatu rasa-perasaan yang melampaui perasaan seorang anak kecil yang sedang jatuh cinta.

 

Langkah-langkah kecilku, sekali lagi tanpa disadari, berubah menjadi sebuah obsesi. Ah, nampaknya itulah awal dari luka-luka yang kuciptakan sendiri. Betapa sepi dan gelapnya perjalanan itu, ketika orang-tua tidak memahami hasratku. Aku seperti berjalan seorang diri. Kapankah orang-tua akan melepaskanku dengan rela untuk menanggapi panggilan hidup membiara?

 

Menunggu dan berharap adalah satu-satunya yang bisa kulakukan. Impian polos untuk menjadi seorang yang suci, berubah menjadi belenggu yang aku sendiri tidak sanggup memahaminya. Tegangan antara hasrat untuk bersatu dengan Dia dan ketidaksetujuan keluarga untuk hidup membiara, membuatku menjadi pribadi yang introvert. Betapa terlukanya diriku oleh gelora cinta yang aku sendiri tidak pahami.

 

Ketika panggilan itu aku rasakan, setidaknya begitulah yang dikatakan orang pada umumnya, aku bahkan mencoba untuk meminta ijin dari orang tua, sampai 4 kali. Keberanian untuk kembali meminta ijin datang ketika aku telah bekerja.

 

Dunia seperti sedang menghimpitku. Saat itulah sebenarnya awal dari perjalanan yang sesungguhnya. Cerita yang digoreskan oleh Dia dengan sangat indah. Harta yang tersembunyi kini terkuak pada saat yang tepat dan seketika mengubah luka menjadi daya yang luar biasa. Aku dipertemukan dengan pribadi-pribadi yang luar biasa dan akhirnya diperkenankan untuk meneruskan langkah sampai pada saat ini.

 

Benar, aku hanyalah manusia biasa yang juga memiliki banyak luka. Fakta ini kusadari, di hari-hari terakhirku sebelum aku kembali ke Jakarta. Pada saat-saat keheningan meditasi, aku menyadari batin masih dipenuhi oleh keinginan-keinginan halus untuk “menjadi lebih baik”, “menjadi suci”, “menjadi sempurna”. Keinginan-keinginan halus tersebut justru menjadi lahan subur bagi timbulnya luka. Namun kini luka itu telah diubah menjadi harta yang tak ternilai harganya.

 

Kurang lebih 3 tahun yang lalu, aku mengenal Romo dan sahabat-sahabatku. Belajar melihat dunia dengan realitas-realitasnya, termasuk realitas diri sendiri. Waktu berjalan dengan penuh kenangan hingga 3 bulan yang lalu. Aku akhirnya sampai di tempat yang selama ini kuimpikan, biara Trappistin di sebuah desa kecil di lereng Gunung Merbabu, beberapa hari menjelang Pekan Suci Maret 2011.

 

Masih teringat jelas ketika beberapa minggu sebelumnya, aku harus meninggalkan tempatku bekerja. Betapa tidak mudah meninggalkan tempat kerja di mana aku menghabiskan hari-hari selama bertahun-tahun. Namun sungguh seperti mimpi rasanya. Setelah keputusan diambil ada rasa lega, senang, bahagia, bersemangat, sedih, takut, dan semua rasa menyatu dan melingkupi batinku sepenuh-penuhnya. Bahkan ketika dalam perjalanan menuju kota Semarang, batinku penuh sesak dan nyaris membuatku berteriak.

 

Saat itu pikiranku terus-menerus bertanya, “Apa yang kulakukan? Apa yang sedang kulakukan? Apakah aku sudah kehilangan akal sehatku?”. Seolah sedang bermimpi melihat aku berada di kendaraan yang membawa ke tempat yang sungguh asing bagiku. Pergi meninggalkan kenangan-kenangan manis bersama para sahabat dan melepaskan segala hasil jerih payahku selama hampir 5 tahun bekerja. Dan yang paling sulit adalah berpisah dengan kehangatan yang kurasakan bersama rekan-rekan seperjalananku. “Untuk apakah aku pergi sejauh ini dan meninggalkan segalanya?”, aku bertanya dalam hati.

 

Ya, melepaskan semuanya dan memasuki padang gurun. Dalam perjalanan menuju Gedono, aku menerima pesan singkat dari Romo via sms, “Ucapkan selamat tinggal pada semuanya. Selamat tinggal artinya Tuhan bersamamu ketika dirimu tidak lagi ada.” Selesai membaca pesan tersebut, sekelebat wajah setiap orang yang kukasihi, keluarga dan sahabat-sahabatku, terbayang di benakku. Kembali aku sadar bahwa merekalah peneguh yang kini membuat aku melangkah pasti di jalan ini.

 

Hari pertama hingga tepat tiga bulan di Biara Gedono kulalui tanpa kesulitan berarti. Ada saat-saat suka; ada saat-saat penuh duka. Keheningan intensif menguak tabir apa saja yang tersembunyi dihadapanNya. Segala emosi yang paling dalam dan tersembunyi menyingkapkan siapa yang di sebut si aku ini. Seluruh peristiwa hidup dalam memoriku menyeruak ke luar dengan jelas, mulai dari masa kecilku hingga saat itu.

 

Aku bukanlah seorang yang sempurna, terbelenggu oleh ego. Menghadapi diri sendiri secara langsung ternyata sungguh tidak mudah. Tidak terbayang jika sebelumnya aku tidak mengenal meditasi. Aku melewati waktu demi waktu dengan kesadaran penuh. Saat demi saat yang kuhargai sebagai satu-satunya yang nyata. Pembimbing Magistraku berkata, “Setia hari demi hari.” Ya, seperti seringkali dikatakan rekan-rekan pemeditasi,  bahwa Saat Sekarang adalah segalanya.

 

Tak ada yang baru dan aneh. Bukan pula sesuatu yang luar biasa. Kehidupan sederhana yang dijalani dengan keindahan ilahi: bekerja tangan, beraktivitas, dan berdoa. Semua menjadi satu dalam keheningan kontemplatif yang indah. Bagiku, itu semua bukanlah hal baru dan itu semua, entah bagaimana, menyatukan diriku dengan rekan-rekan pemeditasi di mana pun mereka berada. Ada saat-saat pengajaran Ibu Abdis terkasih, terasa begitu dekat di hati. Ya, semua yang diajarkan Romo selama ini  ada di sini. Sesuatu Yang Lain melingkupiku dengan sempurna. Suatu hari, aku berbisik dalam hati, “Romo, aku telah dipertemukan dengan sumbernya.”

 

Suatu kali, Ibu Abdis berkata, “Menjalani kehidupan yang sederhana di sini, bukanlah sesuatu yang luar biasa namun akan menjadi sulit jika tidak dijalani dengan kerendahan hati dan kesetiaan tulus.” Keseetiaan dengan hal-hal kecil menghantarku untuk menyadari bahwa ketika cinta sejati datang maka yang ada di dalamnya adalah kebebasan. Ya, cukup dengan menyadari bahwa diri terbelenggu, maka seketika itu pula, kebebasan itu datang. Saat itulah kalimat yang seringkali diucapkan Romo, “Sadar setiapkali kita tidak sadar”, kupahami secara konkrit.

 

Harta kekayaan tak ternilai yang tersembunyi dalam Gereja selama berabad-abad lamanya kini mulai tersingkap. Betapa mengagumkan Yang Transendental menyentuh relung batin manusia dan mengijinkannya mencicipi keindahan sejati. “Dengan apakah manusia mampu menjawab cinta, yang jauh melampaui kata dan bahasa sebagai satu-satunya harta tak ternilai yang dimilikinya? Ungkapan apakah yang pantas diberikan sebagai ucapan terima kasih kepada Dia Yang Tak Terselami?  Apakah aku ini sehingga dianggap layak untuk mencicipi keindahan surgawi ini.”

 

Masih banyak pertanyaan yang perlu lebih banyak untuk diselami. Langkah kecil barulah mulai. Dan saat ini, aku hanya mampu mengucap, “Terima kasih, ya Abba.” Trimakasih pula untuk Romo dan rekan-rekan pemeditasi.*

Posted August 22, 2011 by gerejasanta in Testimonies

Mabuk Cinta   Leave a comment

By Johanes Sudrijanta

 

Testimoni AA, 31th, Akuntan Publik. AA baru saja menyelesaikan live in selama 3 bulan di Biara Trappistin, Gedono, Jawa Tengah. Pada November 2011 nanti, AA akan secara resmi memasuki Biara Trappistin sebagai Postulan. Berikut ini adalah testimoni pengalaman meditasinya yang memperteguh jalan panggilannya untuk hidup membiara.

 

=======

Tiga bulan tinggal di Biara Trappistin, Gedono, telah lewat. Banyak pengalaman yang tak mudah diungkap dengan kata. Masih segar dalam ingatan, bahkan jelas setiap detilnya, tetapi tidak mudah untuk menuliskannya. Satu-satunya alasan yang membuatku memiliki daya untuk kembali menulis adalah karena hari ini adalah hari istimewa. Hari ini, aku kembali melewatkan saat-saat kebersamaan yang hangat bersama rekan-rekan seperjalanan dalam meditasi, merayakan hari ulang tahun guru dan sahabat kami semua.

 

“Sungguh, baru kusadari, betapa guratan-guratan itu, atau lebih tepat sayatan-sayatan itu, telah menuntun langkahku menuju kasih abadi. Apa itu kasih abadi? Apakah kami kelak akan bertemu dan saling memandang?”

 

Kalimat-kalimat itu timbul begitu saja setelah tiga minggu kembali ke dunia nyata dari  live in selama 3 bulan di biara Trappistin, Gedono. Ya, dunia nyata. Begitulah sahabat-sahabatku mengatakannya. Awalnya kupikir akan mudah kembali menjejakkan langkah di dunia nyata ini.

 

Ah, masih memakai kata-kata “aku”. Tetapi, memang saat ini aku tidak lagi seperti dulu. Suka tidak suka, mau tidak mau, realitas ini harus kuterima. Tiga bulan yang lalu, aku begitu mudah mengungkapkan kata. Sekarang, lihatlah. Betapa sulit menggoreskan kata. Bahkan yang paling sederhana sekalipun. Ya, aku memang sedang berada di dunia nyata. Namun bukan lagi aku yang dulu. Serupa namun tak sama. Ketika sesuatu dalam diriku mengubah sebuah obsesi menjadi kebebasan dalam mencintai.

 

Hasrat untuk menanggapi panggilan hidup membiara kurasakan sejak di bangku kelas 3 SD. Gelora itu tidak pernah surut hingga masa-masa kerja keras di dunia kerja. Aku melihat diriku terbentuk dari beragam ide dan lingkungan tempat aku dilahirkan dan dibesarkan. Lahir dari keluarga kecil sebagai banak bungsu dari dua bersaudara, sama-sama perempuan.

 

Aku merasakan suatu dorongan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan sempurna. Bermimpi untuk bersatu dalam keabadian dengan Sang Kekasih. Itu suatu rasa-perasaan yang melampaui perasaan seorang anak kecil yang sedang jatuh cinta.

 

Langkah-langkah kecilku, sekali lagi tanpa disadari, berubah menjadi sebuah obsesi. Ah, nampaknya itulah awal dari luka-luka yang kuciptakan sendiri. Betapa sepi dan gelapnya perjalanan itu, ketika orang-tua tidak memahami hasratku. Aku seperti berjalan seorang diri. Kapankah orang-tua akan melepaskanku dengan rela untuk menanggapi panggilan hidup membiara?

 

Menunggu dan berharap adalah satu-satunya yang bisa kulakukan. Impian polos untuk menjadi seorang yang suci, berubah menjadi belenggu yang aku sendiri tidak sanggup memahaminya. Tegangan antara hasrat untuk bersatu dengan Dia dan ketidaksetujuan keluarga untuk hidup membiara, membuatku menjadi pribadi yang introvert. Betapa terlukanya diriku oleh gelora cinta yang aku sendiri tidak pahami.

 

Ketika panggilan itu aku rasakan, setidaknya begitulah yang dikatakan orang pada umumnya, aku bahkan mencoba untuk meminta ijin dari orang tua, sampai 4 kali. Keberanian untuk kembali meminta ijin datang ketika aku telah bekerja.

 

Dunia seperti sedang menghimpitku. Saat itulah sebenarnya awal dari perjalanan yang sesungguhnya. Cerita yang digoreskan oleh Dia dengan sangat indah. Harta yang tersembunyi kini terkuak pada saat yang tepat dan seketika mengubah luka menjadi daya yang luar biasa. Aku dipertemukan dengan pribadi-pribadi yang luar biasa dan akhirnya diperkenankan untuk meneruskan langkah sampai pada saat ini.

 

Benar, aku hanyalah manusia biasa yang juga memiliki banyak luka. Fakta ini kusadari, di hari-hari terakhirku sebelum aku kembali ke Jakarta. Pada saat-saat keheningan meditasi, aku menyadari batin masih dipenuhi oleh keinginan-keinginan halus untuk “menjadi lebih baik”, “menjadi suci”, “menjadi sempurna”. Keinginan-keinginan halus tersebut justru menjadi lahan subur bagi timbulnya luka. Namun kini luka itu telah diubah menjadi harta yang tak ternilai harganya.

 

Kurang lebih 3 tahun yang lalu, aku mengenal Romo dan sahabat-sahabatku. Belajar melihat dunia dengan realitas-realitasnya, termasuk realitas diri sendiri. Waktu berjalan dengan penuh kenangan hingga 3 bulan yang lalu. Aku akhirnya sampai di tempat yang selama ini kuimpikan, biara Trappistin di sebuah desa kecil di lereng Gunung Merbabu, beberapa hari menjelang Pekan Suci Maret 2011.

 

Masih teringat jelas ketika beberapa minggu sebelumnya, aku harus meninggalkan tempatku bekerja. Betapa tidak mudah meninggalkan tempat kerja di mana aku menghabiskan hari-hari selama bertahun-tahun. Namun sungguh seperti mimpi rasanya. Setelah keputusan diambil ada rasa lega, senang, bahagia, bersemangat, sedih, takut, dan semua rasa menyatu dan melingkupi batinku sepenuh-penuhnya. Bahkan ketika dalam perjalanan menuju kota Semarang, batinku penuh sesak dan nyaris membuatku berteriak.

 

Saat itu pikiranku terus-menerus bertanya, “Apa yang kulakukan? Apa yang sedang kulakukan? Apakah aku sudah kehilangan akal sehatku?”. Seolah sedang bermimpi melihat aku berada di kendaraan yang membawa ke tempat yang sungguh asing bagiku. Pergi meninggalkan kenangan-kenangan manis bersama para sahabat dan melepaskan segala hasil jerih payahku selama hampir 5 tahun bekerja. Dan yang paling sulit adalah berpisah dengan kehangatan yang kurasakan bersama rekan-rekan seperjalananku. “Untuk apakah aku pergi sejauh ini dan meninggalkan segalanya?”, aku bertanya dalam hati.

 

Ya, melepaskan semuanya dan memasuki padang gurun. Dalam perjalanan menuju Gedono, aku menerima pesan singkat dari Romo via sms, “Ucapkan selamat tinggal pada semuanya. Selamat tinggal artinya Tuhan bersamamu ketika dirimu tidak lagi ada.” Selesai membaca pesan tersebut, sekelebat wajah setiap orang yang kukasihi, keluarga dan sahabat-sahabatku, terbayang di benakku. Kembali aku sadar bahwa merekalah peneguh yang kini membuat aku melangkah pasti di jalan ini.

 

Hari pertama hingga tepat tiga bulan di Biara Gedono kulalui tanpa kesulitan berarti. Ada saat-saat suka; ada saat-saat penuh duka. Keheningan intensif menguak tabir apa saja yang tersembunyi dihadapanNya. Segala emosi yang paling dalam dan tersembunyi menyingkapkan siapa yang di sebut si aku ini. Seluruh peristiwa hidup dalam memoriku menyeruak ke luar dengan jelas, mulai dari masa kecilku hingga saat itu.

 

Aku bukanlah seorang yang sempurna, terbelenggu oleh ego. Menghadapi diri sendiri secara langsung ternyata sungguh tidak mudah. Tidak terbayang jika sebelumnya aku tidak mengenal meditasi. Aku melewati waktu demi waktu dengan kesadaran penuh. Saat demi saat yang kuhargai sebagai satu-satunya yang nyata. Pembimbing Magistraku berkata, “Setia hari demi hari.” Ya, seperti seringkali dikatakan rekan-rekan pemeditasi,  bahwa Saat Sekarang adalah segalanya.

 

Tak ada yang baru dan aneh. Bukan pula sesuatu yang luar biasa. Kehidupan sederhana yang dijalani dengan keindahan ilahi: bekerja tangan, beraktivitas, dan berdoa. Semua menjadi satu dalam keheningan kontemplatif yang indah. Bagiku, itu semua bukanlah hal baru dan itu semua, entah bagaimana, menyatukan diriku dengan rekan-rekan pemeditasi di mana pun mereka berada. Ada saat-saat pengajaran Ibu Abdis terkasih, terasa begitu dekat di hati. Ya, semua yang diajarkan Romo selama ini  ada di sini. Sesuatu Yang Lain melingkupiku dengan sempurna. Suatu hari, aku berbisik dalam hati, “Romo, aku telah dipertemukan dengan sumbernya.”

 

Suatu kali, Ibu Abdis berkata, “Menjalani kehidupan yang sederhana di sini, bukanlah sesuatu yang luar biasa namun akan menjadi sulit jika tidak dijalani dengan kerendahan hati dan kesetiaan tulus.” Keseetiaan dengan hal-hal kecil menghantarku untuk menyadari bahwa ketika cinta sejati datang maka yang ada di dalamnya adalah kebebasan. Ya, cukup dengan menyadari bahwa diri terbelenggu, maka seketika itu pula, kebebasan itu datang. Saat itulah kalimat yang seringkali diucapkan Romo, “Sadar setiapkali kita tidak sadar”, kupahami secara konkrit.

 

Harta kekayaan tak ternilai yang tersembunyi dalam Gereja selama berabad-abad lamanya kini mulai tersingkap. Betapa mengagumkan Yang Transendental menyentuh relung batin manusia dan mengijinkannya mencicipi keindahan sejati. “Dengan apakah manusia mampu menjawab cinta, yang jauh melampaui kata dan bahasa sebagai satu-satunya harta tak ternilai yang dimilikinya? Ungkapan apakah yang pantas diberikan sebagai ucapan terima kasih kepada Dia Yang Tak Terselami?  Apakah aku ini sehingga dianggap layak untuk mencicipi keindahan surgawi ini.”

 

Masih banyak pertanyaan yang perlu lebih banyak untuk diselami. Langkah kecil barulah mulai. Dan saat ini, aku hanya mampu mengucap, “Terima kasih, ya Abba.” Trimakasih pula untuk Romo dan rekan-rekan pemeditasi.*

Posted August 22, 2011 by gerejasanta in Testimonies

Penderitaan dan Welas Asih   Leave a comment

By Johanes Sudrijanta

 

Setiap orang memiliki berbagai bentuk belenggu batin seperti rasa luka, kesedihan, kebencian, kesepian, obsesi, ketidakpuasan, kecemasan, ketakutan, kelekatan, kesepian, kemarahan, dan berbagai bentuk penderitaan. Sesungguhnya, semakin dalam orang menyadari penderitaan batin, semakin besar pintu pembebasan terbuka, asal orang mampu menyentuhnya dengan cara yang tepat.

 

Menyentuh Penderitaan

 

Kita bisa menyentuh penderitaan batin dengan melihat fakta bahwa hidup pada hakekatnya adalah penderitaan. Akar dari penderitaan adalah keinginan atau kelekatan. Penderitaan muncul bukan hanya ketika hasrat tidak terpuaskan, tetapi juga ketika hasrat terpuaskan dan batin melekatinya. Semakin besar rasa kepuasan, semakin kuat potensi kelekatan yang ditimbulkan, dan semakin besar pula penderitaan yang dihasilkan. Apa yang tampak indah, mempesona, membawa nikmat bisa menjadi sumber penderitaan yang berlipat-lipat ketika batin melekatinya.

 

Tidak ada manusia yang lolos dari penderitaan sejak dilahirkan. Ketika penderitaan datang, orang bisa dibuat lumpuh karenanya. Orang sering kali mengatakan, “Aku sangat menderita. Mengapa aku harus menanggung penderitaan seperti ini? Mengapa aku menderita, sementara orang lain (liyan) hidup enak?” Orang berpikir hanya dirinyalah yang menderita sementara liyan tidak atau dirinya menderita lebih berat dibanding liyan.

 

Kenyataannya, semua orang menderita. Saat ini pula banyak orang di seluruh dunia merasakan penderitaan yang sama persis seperti yang Anda derita. Bukankah dengan membuka mata batin dan melihat fakta bahwa bukan hanya diri Anda sajalah yang menderita, tetapi juga banyak liyan pada saat yang sama menderita seperti Anda, membuat Anda merasa tidak sendirian?

 

Melihat fakta bahwa banyak liyan menderita pada saat yang sama seperti Anda membuat batin agak ringan dalam menanggung beban. Tetapi penderitaan belum akan berhenti kalau Anda masih berpikir bahwa Anda memiliki penderitaan, “Penderitaan ini adalah milikku.”

 

Penderitaan Anda sesungguhnya sama persis dengan penderitaan saya dan penderitaan liyan. Penderitaan tidak memiliki tuan. Ia bukan milik Anda, bukan milik saya, bukan milik liyan. Penderitaan adalah penderitaan. Ia adalah fakta universal yang mendera siapa saja.

 

Seperti halnya tidak ada orang yang tidak lolos dari penderitaan, begitu pula tidak ada orang yang tidak ingin bebas dari penderitaan. “Aku lelah menderita. Aku ingin bebas dari penderitaan.” Seperti Anda, banyak orang juga bermimpi bebas dari penderitaan. Namun demikian, penderitaan belum akan berakhir hanya dengan memiliki mimpi atau membangun niat untuk bebas dari penderitaan. Hasrat yang besar untuk bebas tidak membuat orang bebas dari penderitaan selama akar penderitaan itu sendiri tidak terpahami.

 

Penderitaan masih terus akan berlanjut selama masih ada paham adanya si aku sebagai entitas lain di luar penderitaan, entah si aku yang menderita atau si aku yang ingin bebas dari penderitaan. Sesungguhnya, apakah ada si aku sebagai entitas lain yang terpisah dari penderitaan? Bukankah si aku tidak terpisah dari penderitaan atau si aku itu tidak lain adalah penderitaan itu sendiri? Bisakah melihat tidak ada lagi “penderitaanku”; yang ada hanya “penderitaan sebagai penderitaan”?

 

Selama masih ada si aku yang terpisah dari penderitaan, maka ada diri yang merasa menderita dan ada diri yang bergulat melawan derita. Ketika si aku tidak ada, bukankah penderitaan tidak lagi mengganggu Anda atau penderitaan itu lenyap? Dan ketika penderitaan berakhir, apa yang Anda lihat? Bukankah cinta dan welas asih terlahir?

 

Membangkitkan Welas Asih

 

Orang yang menderita tidak mungkin bisa mencinta. Cinta hanya mungkin terlahir ketika penderitaan tidak lagi ada. Ketika cinta ini menyentuh penderitaan liyan dan menolong liyan terbebas dari penderitaan, maka cinta ini disebut dengan welas asih.

 

Welas asih berbeda dari rasa kasihan, sebab rasa kasihan bersumber dari rasa takut, rasa superior, atau rasa diri sebagai yang berbeda dari liyan. Tindakan yang muncul dari rasa kasihan tidak mengurangi penderitaan liyan. Agar beban penderitaan liyan terasa berkurang atau untuk membantu liyan terbebas dari penderitaan, welas asih perlu dibangkitkan.

 

Kita bisa berlatih membangkitkan welas asih dengan menyentuh penderitaan liyan, entah mereka yang kita cintai atau mereka yang kita benci.  Kita juga bisa berlatih menyentuh bentuk-bentuk penderitaan yang mendera lebih banyak orang pada saat yang bersamaan. Misalnya, penderitaan rakyat akibat korupsi, perampokan sumber daya, derai air mata rakyat kecil akibat pemiskinan, kesusahan hati akibat ketidakadilan, ketakutan dan ketidaknyamanan akibat kekerasan dalam hidup bersama, hutan gunung sawah lautan yang merana akibat pembakaran, pembalakan, dan pencemaran. Mulailah dari lingkaran yang paling dekat dan kembangkan lebih jauh keluar menjangkau seluas dunia tanpa batas.

 

Sentuhlah dengan kesadaran Anda. Sentuhlah penderitaannya. Semakin dalam dan luasnya penderitaan manusia dan kerusakan bumi yang kita sentuh, semakin besar energy cinta dan welas asih dibangkitkan. Semakin besar energy cinta dan welas asih, semakin kuat dorongan untuk membebaskan sesama dan bumi dari penderitaan dan kehancuran.

 

Semoga lebih banyak makhluk berbahagia dengan sentuhan kesadaran Anda. Semoga lebih banyak makhluk bebas dari penderitaan karena cinta dan welas asih.*

Posted August 22, 2011 by gerejasanta in Articles

Buku contoh Misa Sakramen Pernikahan   1 comment

Buku contoh misa kudus sakramen perkawinan (.docx)

Posted August 10, 2011 by gerejasanta in Ebook of Liturgy

Iman Melampaui Agama   Leave a comment

 

By Johanes Sudrijanta

 

Agama sebagai persekutuan orang-orang yang percaya dengan kitab-kitab sucinya, doktrin-doktrinnya, tradisi-tradisinya, upacara-upacara ritualnya, para pemimpin dan hierarkinya dalam kenyataan bagi kebanyakan orang diperlakukan sebagai system pendukung bagi survival hidup dan kelestarian ego. Orang berduyun-duyun memenuhi Masjid, Gereja, atau tempat-tempat ibadah, tetapi dampak perubahan fundamental dalam hidup pribadi dan social sangatlah kecil. Agama kepercayaan yang dianut oleh kebanyakan orang ini bukan hanya bisa membelenggu umatnya sendiri, tetapi juga bisa menjadi sumber konflik abadi yang merusak hidup bersama.

 

 Agama yang membebaskan adalah agama yang lebih menekankan pengolahan kesadaran dan bukan penguatan kepercayaan. Lewat pengolahan kesadaran, dimungkinkan orang melihat langsung kebenaran non-konseptual dan kebenaran inilah yang membebaskan batin secara mendasar. Hanya perubahan batin yang mendasar memungkinkan terjadinya perubahan social yang mendasar. Beriman dan beragama yang membebaskan dengan demikian menembus sekat-sekat kepercayaan dan sekat-sekat social.

 

 Kalau kebanyakan agama hanya sibuk dengan urusan kepercayaan, maka iman yang membebaskan, baik secara individu maupun social yang keduanya sebenarnya tidak berbeda, haruslah melampaui agama-agama. Maka yang diperlukan bukan sekedar memahami secara mendalam kebenaran konseptuil dalam agamanya sendiri dan terbuka terhadap kebenaran konseptuil agama lain, tetapi menemukan kebenaran non-konseptuil melampaui semua doktrin, semua tradisi, dan kitab-kitab suci. Kalau orang berani berjalan sejauh itu, maka agama bukan lagi hanya soal percaya atau tidak percaya, bukan soal benar atau salah menurut doktrin, bukan soal wajib atau tidak wajib mengikuti perintah agama.

Untuk berjalan melampaui iman konseptuil dan agama kepercayaan, orang perlu mengenali dalam dirinya jebakan-jebakan dalam beriman dan beragama. Sekurang-kurangnya ada empat jebakan dalam kehidupan spiritual: ritualisme atau pietisme, rasionalisme, queitisme, dan aktivisme.

 

 Anda bisa mengenali disposisi Anda dengan menjawab pertanyaan berikut:

- Manakah dari nilai-nilai berikut ini yang Anda pandang paling utama dalam diri Anda dan urutkan menurut hierarkinya mulai dari nilai yang paling kuat: kesalehan, pengertian rational, ketenangan, tindakan atau perbuatan?

- Manakah dari nilai-nilai berikut ini yang seringkali menjebak Anda dan urutkan menurut hierarkinya mulai dari nilai yang paling kuat: aktivisme, quietisme, rasionalisme, ritualisme atau pietisme?

 

 Secara lebih spesifik, Anda bisa memeriksa batin dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

 

Ritualisme atau pietisme

Apakah Anda merasa sangat bersalah kalau tidak memenuhi kewajiban melakukan upacara ritual keagamaan? Apakah Anda tergerak untuk mengikuti ritual keagamaan dengan lebih khusyuk? Apakah Anda memberi hormat yang tinggi kepada orang lain yang saleh hidupnya?

Quietisme

Apakah Anda lebih menyukai suasana ketenangan dibanding  suasana kemeriahan dalam doa atau liturgi? Apakah Anda lebih merindukan kedamaian batin lebih daripada pemuasan intelektuil? Apakah Anda lebih merasa nyaman menghabiskan waktu sendirian dibandingkan berkegiatan bersama orang lain? Apakah Anda suka keheningan tetapi tidak mengalami transformasi batin yang mendasar?

Rasionalisme

Apakah Anda sulit untuk percaya atau menerima suatu kebenaran tanpa penalaran atau argument yang kuat? Apakah Anda memiliki kehausan untuk mengerti kebenaran-kebenaran iman secara intelektuil? Apakah Anda lebih tergerak untuk memahami  secara intelektuil suatu kebenaran tetapi tidak menemukan kebenaran secara aktuil?

 

 Activisme

Apakah Anda lebih banyak berkegiatan tetapi jarang berdoa? Apakah Anda lebih banyak terlibat dalam aksi konkrit untuk perdamaian, keadilan, dan kesejahteraan, dibanding sibuk berpikir atau berteori tentang perdamaian, keadilan, dan kesejahteraan? Apakah Anda seringkali merasa kelelahan atau kehabisan energy dalam berkegiatan dan merasa selalu kurang pemulihan?

 

 Kepuasan ritual, kepuasan intelektual, kepuasan rasa tenang, dan kepuasan berkegiatan hanya akan memperkuat ego yang halus. Jebakan-jebakan di atas merupakan manifestasi dari orientasi batin yang mendekati Tuhan atau kebenaran dengan konsep dan kepercayaan. Iman yang membebaskan musti melampaui konsep dan kepercayaan yang hanya mampu memuaskan ego tetapi tidak mampu mentransformasi ego. Untuk itu dibutuhkan pengosongan atau pelepasan konsep, idea, dan gambaran-gambaran tentang diri, Tuhan dan kebenaran.

Iman non-konseptuil yang melampui agama kepercayaan akan melihat agama dan kehidupan secara berbeda. Agama bukan lagi dipakai sebagai “alat pemuasan” bagi para pemimpin dan pengikutnya untuk mempertebal egonya sendiri, tetapi sebagai “manifestasi pembebasan”. Agama dengan demikian tidak lagi menjadi sumber konflik, belenggu , dan kekerasan, tetapi bisa menjadi sumber inspirasi dan manifestasi untuk pembebasan diri dan social yang sesungguhnya.*

Posted July 24, 2011 by gerejasanta in Articles

Belajar dari Microfinance Lantang Tipo   Leave a comment

By Familia Novita

 

Selama 5 hari, 21-25 Juni 2011, 4 penggerak CUMI (Credit Union Microfinance Innovation) Paroki Blok Q dan Paroki Duren Sawit–Familia Novita Simanjutak, Tri, Suroso, dan Rm Sumarwan, SJ–melakukan studi banding ke CUMI CU Lantang Tipo, Sanggau, Kalimantan Barat. Berikut adalah salah satu refleksi yang ditulis oleh Familia Novita.

 

Untuk melihat keseluruhan dokumen, klik berikut ini:

LAPORAN STUDI BANDING CUMI, 6 JULI 2011 (MSWord)

Posted July 8, 2011 by gerejasanta in Microfinance

Perkembangan Microfinance 2010   Leave a comment

By Antonius Sumarwan, SJ

Credit Union Microfinance Innovation (CUMI) yang muncul dari sebuah eksperimen ternyata telah berjalan selama dua tahun lebih, sejak pinjaman pertama kami kucurkan pada 14 September 2008. Berikut ini kami sampaikan catatan kami mengenai perkembangan CUMI selama 2010 dari berbagai sisi, mulai dari minat Gereja dan masyarakat terhadap program CUMI, perbaikan pengelolaan serta perkembangan anggota dan keuangan.

Untuk membaca seluruh dokumen, silahkan klik di bawah ini:

Jejak Langkah CUMI 2010 (PDF)

Posted May 26, 2011 by gerejasanta in Microfinance

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.